Resmue: Evaluasi program Bimbingan dan Konseling

Resmue: Evaluasi program Bimbingan dan Konseling

Evaluasi program Bimbingan dan Konseling

 

  1. Maksud dan Tujuan

Penilaian kegiatan bimbingan di sekolah adalah segala, upaya tindakan atau proses untuk menetukan derajat kualitas kemajuan kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan program bimbingan di sekolah dengan mengacu pada kriteria tertentu sesuai dengan program bimbingan yang dilaksanakan. .Kriteria yang dipakai untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah mengacu pada ketercapaian kompetensi, keterpenuhan kebutuhan-kebutuhan peserta didik dan pihak-pihak yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung berperan membantu peserta didik memperoleh perilaku dan pribadi kea rah yang lebih baik.

  1. Fungsi Evaluasi
  2. Memberikan umpan balik kepada guru pembimbing untuk memperbaiki atau mengembangkan program Bimbingan dan Konseling
  3. Memberikan informasi kepada pihak pimpinan sekolah, guru mata pelajaran, dan orang tua peserta didik tentang perkembangan sikap dan perilaku, atau tingkat ketercapaian tugas-tugas pngembangan peserta didik, agar secara bersinergi atau berkolaborasi meningkatkan kualitas implementasi program Bimbingan dan Konseling di sekolah.

 

  1. Aspek-aspek yang dievaluasi

Ada dua macam aspek kegiatan penilaian program kegiatan bimbingan, yaitu penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses dimaksudkan untuk mengetahui sampai sejauh mana keektifan pelayanan bimbingan dilihat dari prosesnya, sedangkan penilaian hasil dimaksudkan untuk memperoleh informasi keefektifan pelayanan bimbingan dilihat dari hasilnya.

  1. Langkah –Langkah Evaluasi

Pelaksanaan Evaluasi Program ditempuh melalui langkah langkah berikut :

  1. Merumuskan masalah atau instrumentasi.
  2. Mengembangkan atau menyusun instrument pengumpul data.
  3. Mengumpulkan dan menganilisis data.
  4. Melakukan tindak lanjut.
  5. Akuntabilitas

Akuntabilitas pelayanan terwujud dalam kejelasan program, proses implementasi, dan haasil-hasil yang dicapai serta informasi yang dapat menjelaskan apa dan mengapa sesuatu proses dan hasil terjadi atau tidak terjadi.

 

  1. Analisis Hasil Evaluasi Program dan Tindak Lanjut

            Hasil evaluasi menjadi umpan balik program yang memerlukan perbaikan, kebutuhan peserta didik yang belum terlayani, kemampuan personil dalam melaksanakan program, serta dampak program terhadap perubahan perilaku peserta didik dan pencapaian prestasi akademik, peningkatan mutu proses pembelajaran dan peningkatan mutu pendidikan.

  1. Personel Bimbingan dan Konseling

            Personil utama pelaksana pelayanan Bimbingan dan Konseling adalah konselir dan staf administrasi bimbingan dan konselin. Sementara personil pendukung pelaksanaan pelayanan Bimbingan dan Konseling adalah segenap unsur yang terkait alam pendidikan (kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru mata pelajaran, wali kelas, staf administrasi) didalam organigram pelayanan Bimbingan dan Konseling, dengan coordinator dan guru pembimbing/konselor serta staf administrasi Bimbingan dan Konseling sebagai pelaksanaan utamanya. Uraian tugas masing-masing personil tersebut, khusus dalam kaitannya dengan pelayanan Bimbingan dan Konseling, adalah sebagai berikut :

  1. Kepala sekolah/madrasah dan wakil kepala sekolah/madrasah
  2. Koordinator Bimbingan dan Konseling
  3. Konselor

Konselor adalah tenaga pendidik yang berkualifikasi strata satu (S-1) program studi Bimbingan dan Konseling dan menyelesaikan pendidikan profesi konselor (PPK). Sedangkan penerima/penggunanprofesi Bimbingan dan Konseling dinamakan konseli.

  1. Guru Mata Pelajaran/Praktik
  2. Wali Kelas
  3. Staf Administrasi

Staf administrasi memiliki peranan yang penting dalam meperlancar pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling. Mereka diharapkan menbantu menyediakan format-format yang diperlukan dan menbantu para konselor dalam memelihara data dan serta sarana dan fasilitas Bimbingan dan Konseling yang ada.

REFERENSI

 

Depdiknas. 2008. Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional 2007.


Evaluasi program Bimbingan dan Konseling

KATA PENGANTAR

 

Alhamdulillahirobbilalamin atas rahmat Allah Azzawajalla penulis dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah dari mata kuliah Bimbingan dan Konseling ini. Shalawat serta salam tidak lupa mari kita curahkan kepada Nabi Muhammad Shalallahualaihiwasallam, kepada keluarganya, sahabatnya, dan kepada para umatnya yang mengikuti hingga akhir zaman

Dalam pembuatan makalah ini penulis mendapatkan banyak sekali manfaat yang membuat bersyukur atasnya. Diantaranya adalah pengetahuan tentang bimbingan konseling itu sendiri serta pembahasan yang rinci didalamnya. Selain itu penulis mendapat bimbingan dari dosen pengampu yang membimbing dalam pembuatan makalah baik dari segi penulisan, sistematika ataupun konten didalamnya. Sehingga apa yang didapatkan dari artikel ini menjadi sebuah bahan untuk penulis sendiri untuk pengembangannya ataupun aplikasi ketika menjadi seorang tenaga pendidik.

Semoga apa yang disampiakan di dalam artikel ini dapat menjadi tambahan ilmu dan pengetahuan terutama bagi penulis sendiri dan umumnya bagi pembaca yang budiman. Kritik dan saran penulis harapkan dari para pembaca sekalian sehingga kedepannya dapat menjadi sebuah perbaikan bagi kita semua.

Terakhir ucapan terimakasih saya sampaikan kepada semua pihak yang terlibat baik dari anggota, Dosen Pengampu dan dari sumber-sumber yang telah dijadikan rujukan dalam artikel ini. Karena telah memberikan waktu luang, tenaga dan pikirannya untuk membimbing penulis dalam menyelesaikan artikel pembahasan Evalusi Bimbingan dan Konseling.

 

 

 

                                                                                    Bandung, 10 April 2015

 

 

Penulis

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

James A.F. Stonner (dalam Atmodiwirio, 2000: 5) mendefinisikan “manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan”. Seperti juga Siagian (2001) memberikan definisi “manajemen sebagai kemampuan atau keterampilan seseorang untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan orang lain”.Dalam Ensiklopedi Ekonomi, Bisnis, dan Manajemen dijelaskan bahwa manajemen adalah proses merencanakan dan mengambil keputusan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan sumberdaya manusia, keuangan, fasilitas dan informasi guna mencapai sasaran organisasi dengan cara efisien dan efektif. Stoner (1981) mengemukakan “Management is the process of planning, organizing, leading and controlling the efforts of organizing members and of using all other organizational resources to achieve state organizational goals”.

Dari beberapa definisi manajemen di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen dapat dipandang dari sudut kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu dalam rangka mencapai sesuatu tujuan, di samping itu manajemen dipandang dari sudut proses melakukan sesuatu dalam rangka mencapai tujuan tertentu.Dalam bidang pendidikan, manajemen pendidikan diartikan sebagai upaya seseorang untuk mengerahkan dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk melaksanakan pekerjaan secara efektif, dan menerima pertanggungjawaban pribadi untuk mencapai hasil yang ditetapkan (Hastrop, 1975: 168). Seperti juga Pidarta (1988: 4) mendefinisikan manajemen pendidikan sebagai aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya.

1

Sumberdaya dimaksud dalam definisi di atas adalah ketenangaan, dana, sarana dan prasarana, termasuk informasi. Dengan demikian maka kemampuan seorang manejer memadukan sumberdaya tersebut merupakan hal yang sangat penting. Dalam definisi ini tentu saja meliputi proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian sebagai fungsi-fungsi manajemen. Bagaimana sumber daya direncanakan, diorganisasikan, diarahkan dan dikendalikan dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu manajemen pendidikan dapat didefinisikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan (Depdikbud 1992/1993: 4).

Bertitik tolak dari berbagai definisi manajemen di atas, maka dapat dirumuskan manajemen Bimbingan dan Konseling sebagai aktifitas memadukan sumberdaya-sumberdaya Bimbingan dan Konseling dalam upaya mencapai tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan bimbingan konseling pada khususnya.Bimbingan dan Konseling sebagai salah satu sub system dari ketiga sub system yang tercakup dalam proses pendidikan, memiliki berbagai sumberdaya baik berupa tenaga, ssarana dan prasarana, serta dana. Oleh sebab itu sangat dibutuhkan pengelolaan terhadap sumberdaya tersebut agar tujuan Bimbingan dan Konseling di sekolah dapat tercapai secara optimal, yang selanjutnya dapat mengoptimakan pula pencapaian tujuan pendidikan.

Manajemen Bimbingan dan Konseling berarti pula melaksanakan berbagai fungsi dalam manajemen. Massie (dalam Atmodiwirio, 2000: 14 -15 ) mempergunakan tujuh fungsi manajemen sebagai berikut:

  1. Pengambilan keputusan, yakni proses tindakan secara sadar dipilih dari berbagai variabel yang ada, dimaksud untuk mencapai hasil yang diinginkan.
  2. Pengorganisasian, yakni proses struktur dan alokasi pekerjaan ditentukan.
  3. Staffing, yakni proses seorang manajer memilih, melatih, mengangkat dan memberhentikan bawahannya.
  4. Planning, yakni proses manajemen mengantisipasi masa yang akan datang dan merumuskan alternatif terbaik dengan serangkaian tindakan.
  5. Kontrol, yakni proses mengukur pelaksanaan yang sedang berjalan dan merupakan petunjuk terhadap beberapa tujuan yang sebelumnya telah ditetapkan.
  6. Komunikasi, yakni proses ide (gagasan) disampaikan kepada orang lain dengan maksud tercapainya hasil yang diinginkan secara efektif.
  7. Pengarahan, yakni proses pelaksanaan kerja nyata seorang bawahan dibimbing untuk mencapai tujuan umum.

Melalui manajemen yang baik terhadap pelayanan Bimbingan dan Konseling, maka diharapkan tercapai efisiensi dan efektivitas dalam penyelenggaraan kegiatan Bimbingan dan Konseling di sekolah.Dengan demikian peranan Bimbingan dan Konseling dalam mengoptimalkan pencapaian tujuan pendidikan dapat terlaksana sebagaimana mestinya.

Berbagai persoalan yang ditemui dalam pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah seperti anggapan yang keliru tentang Bimbingan dan Konseling, kurangnya motivasi siswa memanfaatkan layanan Bimbingan dan Konseling secara mandiri, dan pemberian tugas rangkap oleh pihak sekolah kepada guru pembimbing, terjadi karena tidak optimalnya manajemen terhadap pelayanan Bimbingan dan Konseling itu sendiri.

 

  1. Rumusan Masalah
  2. Apakah yang dimaksud dengan evaluasi Bimbingan dan Konseling?
  3. Apakah yang dimaksud dengan hasil analisis evaluasi Bimbingan dan Konseling?
  4. Apakah yang dimaksud dengan personel program Bimbingan dan Konseling?

 

  1. Tujuan Penulisan
  2. Mengetahui pengertian dan maksud evaluasi Bimbingan dan Konseling?
  3. Mengetahui pengertian hasil analisis evaluasi Bimbingan dan Konseling?
  4. Mengetahui pengertian personel program Bimbingan dan Konseling?

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

 

  1. Evaluasi program Bimbingan dan Konseling
  2. Maksud dan Tujuan

Penilaian kegiatan bimbingan di sekolah adalah segala, upaya tindakan atau proses untuk menetukan derajat kualitas kemajuan kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan program bimbingan di sekolah dengan mengacu pada kriteria tertentu sesuai dengan program bimbingan yang dilaksanakan. .Kriteria yang dipakai untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah mengacu pada ketercapaian kompetensi, keterpenuhan kebutuhan-kebutuhan peserta didik dan pihak-pihak yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung berperan membantu peserta didik memperoleh perilaku dan pribadi kea rah yang lebih baik.

Dalam keseluruhan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling, penilaian diperlukan untuk memperoleh umpan balik terhadap kefektifan pelayanan bimbingan yang telah dilaksanakan.Dengan informasi ini dapat dapat diketahui sejauh mana derajat keberhasilan kegiatan pelayanan bimbingan. Berdasarkan informasi ini dapat ditetapkan langkah-langkah tundak lanjut ubtuk memperbaiki dan mengembangkan program selanjutnya.

 

  1. Fungsi Evaluasi
  2. Memberikan umpan balik kepada guru pembimbing untuk memperbaiki atau mengembangkan program Bimbingan dan Konseling
  3. Memberikan informasi kepada pihak pimpinan sekolah, guru mata pelajaran, dan orang tua peserta didik tentang perkembangan sikap dan perilaku, atau tingkat ketercapaian tugas-tugas pngembangan peserta didik, agar secara bersinergi atau berkolaborasi meningkatkan kualitas implementasi program Bimbingan dan Konseling di sekolah.

 

4

Aspek-aspek yang dievaluasi

Ada dua macam aaspek kegiatan penilaian program kegiatan bimbingan, yaitu penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses dimaksudkan untuk mengetahui sampai sejauh mana keeektifan pelayanan bimbingan dilihat dari prosesnya, sedangkan penilaian hasil dimaksudkan untuk memperoleh informasi keefektifan pelayanan bimbingan dilihat dari hasilnya. Aspek yang dinilai baik proses maupun hasil antara lain :

  1. Kesesuaian antara program dengan pelaksanaan;
  2. Akterlaksanaan program;
  3. Hambatan-hamatan yang dijumpai;
  4. Dampak pelayanan bimbingan terhadap kegiatan belajar mengajar;
  5. Respon peserta didik , personal sekolah,orang tua, dan masyarakat terhadap pelayanan bimbingan;
  6. Perubahankemajuan peserta didik dilihat dari pencapaian tutjuan pelayanan bimbingan, pencapaian tugas-tugas perkembangan dan hasil belajar; dan keberhasilan peserta didik setelah menamatkan sekolah baik studi lanjutan ataupun pada kehidupannya di masyarakat.

Apabila dilihat dari sifat evaluasi, evaluasi bimbingan dan konseling lebih bersifat “penilaian dalam proses” yang dapat dilakukan dengan cara berikut ini.

  1. Mengamati parsitipasi dan aktivitas peserta didik dalam kegiatan pelayanan bimbingan
  2. Mengungkapkan pemahaman peserta didik a.tas bahan-bahan yang disajikan peserta didik atas masalah yang dialaminya.
  3. Mengungkapkan kegunaan pelayanan bagi peserta didik dan perolehan peserta didik sebagai hasil dari partisipasi dalam kegiatan pelayanan bombingan.
  4. Mengungkapkan minat peserta didik tentang perlunya pelayanan bimbingan lebih lanjut.
  5. Mengamati perkembangan peserta didik dari waktu ke waktu
  6. Mengungkapkan kelancaran proses dan susasana penyelengaraan kegiatan pelayanan

Berbeda dengan hasil evaluasi penajaran yang pada umunya berbentuk angka atau skor, maka hasil evaluasi Bimbingan dan Konseling berupa deskripsi tentang aspek-aspek yang dievaluasi. Deskripsi tersebut mencerminkan sejauh mana proses penyelenggaraanpelayanan memberikan seauatu yang berharga bagi kemajuan dan perkembangan atau kemudahan untuk kegiatan pelayanan terhadap peserta didik.

 

  1. Langkah –Langkah Evaluasi

Pelaksanaan Evaluasi Program ditempuh melalui langkah langkah berikut :

  1. Merumuskan masalah atau instrumentasi. Karena tujuan evaluasi adalah memperoleh data yang diperlukan untuk mengambil keputusan, maka konselor perlu mempersiapkan instrument yang terkait dengan hal-hal yang akan dievaluasi, pada dasarnya terkait dengan dua aspek pokok uang dievalusai yaitu ; (1) tingkat keterlaksanaan program, dan(2) tingkat ketercapaian tujuan program
  2. Mengembangkan atau menyusun instrument pengumpul data. Untuk memperoleh data yang diperlukan, yaitu mengenai tingkat keterlaksanaan dan ketercapaian program, maka konselor perlu menyusun insrumen yang relavan dengan kedua aspek tersebut. Instrumen itu diantaranya inva=entori, angket, pedoman wawancara, pedoman observasi, dan studi dokumentasi.
  3. Mengumpulkan dan menganilisis data. Setelah data diperoleh maka data iti dianalisis, yaitu menelaah tentang program apa saja yang telah dan belum dilaksanakan, serta tujuan mana saja yang telah dan belum tercapai.
  4. Melakukan tindak lanjut. Berdasarkan temuan yang diperoleh, maka, dapat dilakukan kegiatan tindak lanjut, Kegiatan ini dapat meliputi dua kegiatan, yaitu (1) memperbaiki hal-hal yang dipandang lemah, kurang tepat, atau kurang relavan dengan tujuan yang ingin dicapai, dan (2) mengembangkan program, dengan cara mengubah atau menambah beberapa hal yang dipandang dapat meningkatkan kualitas atau efektifitas program.

 

  1. Akuntabilitas

Akuntabilitas pelayanan terwujud dalam kejelasan program, proses implementasi, dan haasil-hasil yang dicapai serta informasi yang dapat menjelaskan apa dan mengapa sesuatu proses dan hasil terjadi atau tidak terjadi. Hal yang amat penting di dalam akuntabilitas adalah informasi yang terkait dengan fackor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan peserta didik di dalam mencapai kompetensi. Oleh karena itu seorang konselor perlu menguasai data dan bertundak atas dasar data yang terkait dengan perkembangan peserta didik.

 

  1. Analisis Hasil Evaluasi Program dan Tindak Lanjut

            Hasil evaluasi menjadi umpan balik program yang memerlukan perbaikan, kebutuhan peserta didik yang belum terlayani, kemampuan personil dalam melaksanakan program, serta dampak program terhadap perubahan perilaku peserta didik dan pencapaian prestasi akademik, peningkatan mutu proses pembelajaran dan peningkatan mutu pendidikan.

Hasil analisis harus ditindaklanjuti dengan menyusun program selanjutnya sebagai kesinambungan program, mengembangkan jejaring pelayanan agar pelayanan Bimbingan dan Konseling lebih optimal, melakukan referral bagi peserta didik-peserta didik yang memerlukan bantuan khusus dari ahli lain, serta mengembangkan komitmen baru kebijakan orientasi dan implementasi pelayanan Bimbingan dan Konseling selanjutnya.

 

  1. Personel Bimbingan dan Konseling

            Personil utama pelaksana pelayanan Bimbingan dan Konseling adalah konselir dan staf administrasi bimbingan dan konselin. Sementara personil pendukung pelaksanaan pelayanan Bimbingan dan Konseling adalah segenap unsur yang terkait alam pendidikan (kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru mata pelajaran, wali kelas, staf administrasi) didalam organigram pelayanan Bimbingan dan Konseling, dengan coordinator dan guru pembimbing/konselor serta staf administrasi Bimbingan dan Konseling sebagai pelaksanaan utamanya. Uraian tugas masing-masing personil tersebut, khusus dalam kaitannya dengan pelayanan Bimbingan dan Konseling, adalah sebagai berikut :

  1. Kepala sekolah/madrasah dan wakil kepala sekolah/madrasah

Sebagai penanggung jawab kegiatan pendidikan disekolah/madrasah secara menyeluruh, khususnya pelayanan Bimbingan dan Konseling. Tugas kepala sekolah/madrasah dan wakil kepala sekolah/madrasah adalah mengkoordinasi segenap kegiatan yang direncanakan, diprogramkan dan berlangsung di sekolah/madrasah, sehingga pelayanan pengajaran, latihan dan Bimbingan dan Konseling merupakan satu kesatuan yang terpadu, harmonis dan dinamis.

  1. Menyediakan sarana dan prasarana, tenaga dan berbagai fasilitas lainnya untuk kemudahan bagi terlaksananya pelayanan Bimbingan dan Konseling yang efektif dan efisien.
  2. Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program, penilaian dan upaya tindak lanjut pelayanan Bimbingan dan Konseling.
  3. Mempertanggung jawabkan pelaksanaan pelayanan dan Bimbingan dan Konseling disekolah kepada pihak pihak terkait terutanma dinas pendidikan yang menjadi atasannya.
  4. Menyediakan fasilitas dan kesempatan dukungan dalam kegiatan kepengawasaan yang dilakukan oleh pengawas sekolah bidang Bimbingan dan Konseling.
  5. Koordinator Bimbingan dan Konseling

Koordinator Bimbingan dan Konseling adalah salah satu konselor diantaranya berperan sebagai pembantu kepala sekolah bidang pelayanan Bimbingan dan Konseling yang bertugas :

  1. Mengkoordinasikan para konselor.
  2. Memasyarakatkan pelayanan Bimbingan dan Konseling kepada segenap warga sekolah, orang tua peserta didik dan masyarakat.
  3. Menyusun program kegiatan Bimbingan dan Konseling pelayanan dan kegiatan pendukung program mingguan, bulanan, semsetera dan tahuanan.
  4. Melaksanakan program Bimbingan dan Konseling.
  5. Mengadministrasikan program kegiatan Bimbingan dan Konseling.
  6. Menilai hasil pelaksanaan program kegiatan Bimbingan dan Konseling.
  7. Menganalisis hasil penilaian pelaksanaan Bimbingan dan Konseling.
  8. Memberikan tindak lanjut terhadap analisis hasil penilaian Bimbingan dan Konseling.
  9. Mengusulkan kepada kepala sekolah atau madrasah dan mengusahakan bagi terpenuhinya tenaga, sarana prasarana, alalt dan perlengkapan pelayanan Bimbingan dan Konseling.
  10. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan Bimbingan dan Konseling kepada kepala sekolah/madrasah.
  11. Berpartisifasi aktif dalam kegiatan kepengawasan oleh pengawas sekolah/madrasah bidang Bimbingan dan Konseling.
  12. Konselor

Konselor adalah tenaga pendidik yang berkualifikasi strata satu (S-1) program studi Bimbingan dan Konseling dan menyelesaikan pendidikan profesi konselor (PPK). Sedangkan penerima/penggunanprofesi Bimbingan dan Konseling dinamakan konseli. Konselor sebagai pelaksana utama, tenagan inti dan ahli atau tenaga profesional, bertugas:

  1. Melakukan studi kelayakan dan needs assesment pelayanan Bimbingan dan Konseling.
  2. Merencanakan pelayanan Bimbingan dan Konseling untuk satuan-satuan waktu tertentu. Program-program tersebut dikemas dalam program harian/mingguan, bulanan, semesteran, dan tahunan.
  3. Melaksanakan program pelayanan Bimbingan dan Konseling.
  4. Menilai proses dan hasil pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling.
  5. Menganalisis hasil penilaian pelayanan Bimbingan dan Konseling.
  6. Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil penilaian pelayanan Bimbingan dan Konseling.
  7. Mengadministrasikan kegiatan program Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakannya.
  8. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas dalam pelayanan Bimbingan dan Konseling secara menyeluruh kepada koordinator Bimbingan dan Konseling serta kepala sekolah/madrasah.
  9. Mepersiapkan diri, menerima dan berpartisifasi aktif dalam kegiatan kepengawasan oleh pengawas sekolah atau madarasah bidang Bimbingan dan Konseling.
  10. Berkolaborasi dengan guru mata pelajaran dan wali kelas serta pihak yang terkait dalam pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling.
  11. Guru Mata Pelajaran/Praktik

Sebagai pengampu mata pelajaran dan/atau praktikum, guru dalam pelayanan Bimbingan dan Konseling memiliki peran sebagai berikut:

  1. Membantu konselor mengindentifikasi peserta didik-peserta didik yang memerlukan Bimbingan dan Konseling, setrta membantu pemngumpulan data tentang peserta didik.
  2. Mereferal peserta didik yang memerlukan pelayanan Bimbingan dan Konseling kepada konselor.
  3. Menerima peserta didik alih tangan dari konselor, yaitu peserta didik yang menurut konselor memerlukan pelayanan pengajar/latihan khusus (seperti pengajaran/latihan perbaikan, program pengayaan).
  4. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada peserta didik yang memerlukan pelayanan/kegiatan Bimbingan dan Konseling untuk mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang dimaksudakn itu.
  5. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah peserta didik, seperti konferensi kasus
  6. Membantu pegumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan Bimbingan dan Konseling serta upaya tindak lanjutnya.
  7. Wali Kelas

Sebagai pembina kelas, dalam pelayanan Bimbingan dan Konseling Wali Kelas berperan:

  1. Melaksanakan peranannya sebagai penasihat kepada peserta didik khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya.
  2. Membantu meberikan kesempatan dan kemudahan bagi peserta didik, khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya, untuk mengikuti/menjalani pelayanan dan/atau kegiatan bimbingan dan konsling.
  3. Berpartipasi aktif dalam konferensi kasus.
  4. Mereferal peserta didik yang memerlukan pelayanan Bimbingan dan Konseling kepad konselor.
  5. Staf Administrasi

Staf administrasi memiliki peranan yang penting dalam meperlancar pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling. Mereka diharapkan menbantu menyediakan format-format yang diperlukan dan menbantu para konselor dalam memelihara data dan serta sarana dan fasilitas Bimbingan dan Konseling yang ada.

 

BAB III

ANALISIS TEORI DAN PRAKTIS

 

  1. Analisis Teoritis

Fungsi manajemen sangat membantu sekali kepada pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling ketika dilaksanaan dilapangan. Jika fungsi-fungsi manajemen diterapkan secara maksimal maka akan memberikan pengaruh yang baik serta menjadikan layanan program Bimbingan dan Konseling berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

 

  1. Analisis Praktis

Untuk analisis praktis penulis membawakan satu kasus observasi yang dilakukan oleh salah satu sumber mengenai proses pengaplikasian Bimbingan dan Konseling di SDN Puren Jl.Tantular 93 Pringwulung Condong Catur Depok Kab. Sleman,Yogyakarta.

SDN Puren merupakan SD Negeri yang terletak di lingkungan yang ramai. Karena sekolah ini tepat berada di sebelah utara selokan mataram dan tidak jauh dari perempatan jalan. Terdapat bangunan di sekitar sekolah seperti Indomaret, jogja chicken dll.

Di dalam lingkungan sekolah terdapat banyak tanaman, baik itu tanaman hias dan pohon-pohon yang rindang. Oleh karena itu sekolah ini nampak asri dan sangat bersih. Bangunan sekolah sudah bagus dan layak untuk belajar. Kendalanya luas bangunan yang kurang dan terletak di lingkungan yang padat penduduk. Di dalam sekolah, terdapat beberapa bangunan  yang mendukung sebagai sarana prasarana sekolah. Seperti ada ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang rapat, kantin kejujuran, musholla, UKS, tempat parkir, toilet, lapangan upacara dan lapangan basket.

 

  1. Hasil Observasi
12

Setelah kita lihatkan bersama bahwa, SDN Puren memiliki kondisi letak dan lingkungan yang cukup bagus. Namun, setiap sekolah pastilah memiliki hambatan-hambatan yang harus dihadapi, seperti pada kondisi guru yang jumlahnya kurang memenuhi, hanya ada 4 guru kelas yang ada dan guru yang lainnya sudah memiliki tugas terhadap ilmu di bidangnya masing-masing. SDN Puren masih dikatakan kekurangan guru kelas, yaitu guru kelas II dan kelas III diampu oleh guru yang lain. Selain itu, ada juga guru yang tidak memiliki kode etik dalam artian tidak sesuai dengan sopan santun ataupun kelayakan sebagai seorang guru, maka dari itu akan segera dimutasi.

Jumlah guru yang ada di SDN Puren saat ini keseluruhan ada 15 orang (Kepala Sekolah, Guru dan Penjaga Sekolah), sedangkan jumlah keseluruhan siswanya 206 siswa dengan 6 rombongan kelas. Di SDN Puren sering sekali terjadi permasalahan yang dihadapi siswa, permasalahan yang dihadapi pun beraneka ragam. Dalam menangani permaslahan yang dihadapi siswa, di SDN Puren yang bertanggungjawab adalah guru kelas masing-masing dengan memberikan layanan Bimbingan dan Konseling yang bekerja sama dengan semua pihak sekolah, keluarga dan lingkungan sekolah.

Adapun penerapan fungsi-fungsi manajemen dalam program layanan Bimbingan dan Konseling adalah sebagai berikut :

  1. Planning (Perencanaan)

Dalam hal ini SDN Puren belum mengadakan sebuah perencanaan secara matang dan tertata, namun seorang guru hanya membuat sebuah perencanaan saat sudah ada masalah atau bersifat dadakan. Hal demikian dikarenakan sebuah masalah di Sekolah Dasar masih mendasar dalam artian belum dalam ranah masalah besar. Pada realitanya, ada beberapa guru yang mengikuti penataran Pelayanan BK dan mendapatkan sertifikat khusus.

Namun, yang pasti tahap awal yang dilakukan adalah mengidentifikasi masalah. Untuk penerimaan siswa baru dilakukan juga Tes IQ, dan untuk siswa khusus dilakukan tes oleh Psikolog di Puskesmas. Jadi, secara jelasnya SDN Puren masih menerapkan metode perencanaan bimbingan klasik atau lama.

  1. Organizing (Pembagian tugas)

Pengelompokan dalam manajemen konseling SDN Puren ada 2 hal, yakni pengelompokkan siswa yang berprestasi dan siswa yang bermasalah. Dalam pengelompokkan siswa yang berprestasi yakni di bimbing dan diberi pelatihan khusus. Lalu, untuk siswa yang bermasalah yakni dikelompokkan dan ditangani oleh guru kelas masing-masing.

  1. Actuating (Pelaksanaan)

Pelaksanaan di SDN Puren dengan melayani sebatas kemampuan yang dimiliki, karena di Sekolah tersebut tidak memiliki guru BK yang khusus. Untuk siswa kelas I yang sudah mampu membaca dengan lancar diberi tugas untuk membaca buku diperpustakaan atau di kelas dan membantu teman-teman lain yang belum lancar membaca. Kemudian untuk siswa yang memiliki bakat atau minat tertentu diberi bimbingan dan pelatihan, contohnya ada siswa kelas V yang memiliki postur tubuh tinggi dan proporsional yang memiliki hobi bermain tenis lapangan, maka anak tersebut disuport oleh sekolah dan diberikan pelatihan setiap hari setelah jam pulang sekolah.

Kemudian, untuk bimbingan terhadap anak yang bermaslah contohnya, ada anak tuna netra dibimbing di ruang UKS, jadi memang SDN Puren belum terdapat adanya Sarana penunjang layanan BK. Ketika ada anak yang nakal atau memiliki masalah pun langsung dibimbing atau dilayani di ruang Kepala Sekolah. Tak hanya itu, dari pihak sekolah pun memiliki buku daftar program bimbingan di setiap kelas. Tak hanya buku untuk guru namun juga untuk siswa. Dalam buku guru terteta format penilaian atau bimbingan yang dilakukan pada masing-masing anak atau anak tertentu. Jika buku yang dimiliki anak, mereka memegang masing-masing buku yang isinya tentang kendala dalam menerima pelajaran, kesulitan membaca, belajar membaca, dan lain-lain.

Ada juga pelaksanaan unik yang dilakukan pihak sekolah terhadap masyarakat sekitar, yakni melakukan hubungan yang sangat baik dengan masyarakat sekitar seperti mengumumkan tentang kebersihan sekolah dan sekitar untuk bersama-bersama dibersihkan dalam rangka lomba Kebersaihan Sekolah tingkat Nasional. Masyarakat pun memberikan rasa peduli dan kepercayaan terhadap sekolah. Hubungannya dalam pelaksanaan bimbingan dan layanan disini adalah pihak sekolah tidak hanya memberikan layanan terhadap siswa dan semua guru atau penjaga, namun juga seluruh anggota masyarakat yang berada di sekitar sekolah. Pengawasan masyarakat terhadap pihak sekolah pun selalu diterapkan, dan kegiatan di SDN Puren tak hanya untuk pembelajaran di pagi hari saja, namun untuk sore dan malam hari sering juga digunakan oleh masyarakat sekitar untuk kegiatan bersama.

  1. Controling (Evaluasi dan Tindak lanjut)

Untuk melakukan evaluasi, SDN Puren melaksanakannya dengan cara memberikan pelaporan hasil belajar dan semangat siswa kepada semua wali murid setiap penyerahan raport. Belum lagi jika ada wali murid yang cuek, maka wali murid tersebut dipanggil ke Sekolah untuk diberi penjelasan. Tak hanya saat momen itu, ada juga beberapa guru SDN Puren yang memberikan pelaporan terkait siswa saat pagi hari ketika orang tua mengantar ke sekolah, juga siang hari saat dijemput orang tua. Untuk sebuah tindak lanjut sendiri, ketika ada yang memiliki bakat unik yang tidak dimiliki oleh anak-anak lain yaitu dengan cara memberikan kesempatan untuk tampil pada sebuah acara sekolah dan diberi hadiah, seperti acara perpisahan kelas VI, acara hari Besar Islam, acara Kartini, dan masih banyak lagi. Jika terdapat siswa yang memiliki bakat dalam bidang olahraga maka diberi pelatihan khusus dan disuport oleh semua guru. Kemudian untuk siswa yang bermasalah, tidak diperlakukan dengan manja tapi disikapi dengan ketegasan, ditantang, dan dihadapkan secara serius. Contohnya ada siswa kelas 6 (sekarang) yang dulunya selalu tinggal selama 3 tahun berturut-turut, dia adalah anak tunggal yang selalu dimanja oleh orang tuanya, dibelikan handphone yang mahal sekalipun pasti dituruti. Namun, untuk masalah sekolahnya tidak pernah diperhatikan, sepeti tidak membawa pensil saat Ujian Nasional kemaren. Maka dari itu, guru harus memperlakukan siswa tersebut secara tegas dan tidak dimanja, supaya dia dapat sadar bahwa perbuatannya sudah tidak dibenarkan dalam norma agama dan sosial.

 

  1. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan hasil observasi yang telah diuraikan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa:

Layanan Bimbingan dan Konseling di SDN Puren dilaksanakan secara langsung berdasarkan pada permasalahan yang dihadapi siswa saat itu. Di SDN Puren tidak terdapat program BK yang terencana secara tertulis. Hal ini dikarenakan tidak ada guru BK secara khusus dan memang belum menjadi program yang berdiri independen di SDN Puren. Berdasarkan data yang telah diuraikan diatas dapat disimpulkan bahwa untuk penerapan fungsi manajemen khususnya planning, organizing, actuating dan controlling belum sepenuhnya diterapkan. Pelaksanaan – pelaksanaan yang ada di SDN Puren sangat sederhana, sebatas pada melakukan kegiatan bimbingan yang autodidak sesuai dengan keadaan dan permasalahan yang dihadapi siswa.

 

BAB IV

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Dari pembahasan artikel ini dapat disimpulkan bahwa evalusi program Bimbingan dan Konseling merupakan sebuah komponen yang penting. Dengan adanya evaluasi, pelaksanaan dari semua personel yang terlibat dalam program Bimbingan dan Konseling akan memiliki nilai acuan untuk meningkatkan kulaitas pelayanan dari yang telah dilaksanakan sebelumnya.

17

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Admin. (2015, Maret 2015). Contoh Laporan Observasi BK di Sekolah. Dipetik April 10, 2015, dari Perkuliahan: http://www.perkuliahan.com/contoh-laporan-observasi-bk-di-sekolah/

Atmodiwirio, S. 2000. Manajemen Pendidikan Di Indonesia. Jakarta: PT. Ardadizya Jaya.

Depdiknas. 2008. Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional 2007.

Depdikbud. 1995.Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Buku IV. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Hestrop, W. Richard. 1975. Managing Education for Result, Etc. Publication Illionis.

Pidarta, Made, 1988. Manajemen Pendidikan Indonesia, Jakarta: Bina Aksara.

Rahim, Maryam. 2012. Manajemen Bimbingan dan Konseling Dalam Konteks Manajemen Pendidikan di Sekolah. Makalah Universitas Negeri Gorontalo.

Shertzer and Stone, 1981. Fundamentals of Guidance, Fourth Edition, Boston : Houghton Mifflin Company.

Siagian, Sondang. 2001. Sistem informasi Manajemen. Jakarta. Bumi Aksara.

 

 


Akhirnya, Hatiku Berlabuh di “Telekomunikasi”

Bismillah

2 hari yang lalu hati ini sempat “andilau”sahabat, heee. Itu lho, perasaan antara dilema dan galau. Hal ini terjadi karena saya harus memilih konsentrasi keahlian pada jurusan program studi yang sedang saya tempuh. Sahabat, saya sendiri Alhamdulillah sedang melaksanakan perintah Allah Subhana Wataala untuk mencari ilmu. Adalah tempat yang Allah Azawajala memberikan kesempatan untuk belajar di  perguruan tinggi negeri terkemuka Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Tepatnya saya sedang mengenyam pendidikan di Fakultas Pendidikan Teknik dan Kejuruan (FPTK) Jurusan Pendidikan Teknik Elektro (JPTE) angkatan 2012.

“Read More”